what is when?

April 13, 2009

Interview tahap dua

Filed under: enrichment — rinitriani @ 8:44 pm

Siang ini aku datang ke kantor pusat nya yang terletak cukup jauh dari tempat tinggalku di Bandung untuk memenuhi panggilan interview pukul 11 siang.

Pukul 12 siang, setelah lewat jadwal interviewku selama satu jam lebih, seorang manajer yang sebelumnya pernah mewawancaraiku memintaku untuk menunggu satu jam lagi, karena mendadak mereka harus mengadakan rapat segera. “Rapat segera (?) setelah satu jam terminku terlewati? I was like…esmosi. Beliau mohon maaf dan mencoba menghibur dengan cara menyarankan supaya jalan-jalan terlebih dahulu selama satu jam (setelah menunggu selama satu jam ya..), dan juga menawarkan beberapa bahan bacaan majalah majalah yang dia ambil secara secara mendadak (mungkin dari kantor pribadinya).

Satu orang lagi peserta yang punya janji jam 1 pun datang. Dengan mencoba meyakinkan diri, saya bertanya, seberapa worthwhile kah menunggu. “interview nya akan berlangsung berapa lama?”. “Ga lama ko, cuma sekitar setengah jam”. Dua jam terlantar dan untuk setengah jam yang tampak tak berarti bagi mereka, batinku. Akhirnya mencoba menghibur diri sendiri dengan beramah tamah dengan nona satu lagi yang baru datang. Aku juga bukan dalam posisi yang menguntungkan, secara masih pelamar.

Kemudian tak lama berbincang bincang, para manajers pun berubah pikiran untuk memanggil kami segera ke ruang interview dan tidak membuat kami menunggu lebih lama lagi. Baiklah..semuanya tampak menjadi lebih baik.

self service mengambil sendiri air minum untuk diriku. kemudian saya dan nona satu lagi siap. Mereka berempat menanyakan apa itu marketing, apa itu fashion retail dan wholesaler, kemudian motivasi kerja, hingga menguji coba bahasa jerman saya. Baiklah.. kemudian beberapa studi kasus pun muncul dan diujikan pada kami, dan GM meminta kami menjawab secara berbarengan dengan memberikan solusi terbaik menurut pemikiran kami. This is bkin ilfil banget. “berbarengan???”. If he ever thinks that this is good strategy, I couldn’t help but disagree. I am so not into it.

Pertamanya, saya coba aturan aneh itu, and it sounds so stupid…karena jadi ribut sekali, dan sama sekali bukan karakter asli yg keluar. kemudian no no…I keep on my character to not obey ridiculuos rules. Jadi saya hanya menjawab jika saya siap dan suasana cukup tenang, unless.. just silent and watch. Dan mereka menuruti mau saya.

Everythings then goes alright. ga semua kasus terpikir oleh saya jalan keluarnya, karena kebanyakan hanya menuntut insting, sementara reasoning dari saya belum cukup kuat untuk suatu kasus karena minimnya pengalaman di lapangan. I am applying as a trainee I supposed. I am doing well dalam menggambar dan menceritakan hubungannya dengan leadership. Dan besok adalah tahap psikotest.

Jikalah pekerjaan ini memang buatku maka semua akan nyata adanya. I am ready for what is when..

March 5, 2009

Welcome Back

Filed under: enrichment — rinitriani @ 12:26 am

Voila!

Hari ini saya melihat kembali blog yang dahulu pernah saya rangkai…dan the lattest post was on feb 2008!. sudah satu tahun berlalu sudah. Untuk orang yang mengaku suka menulis seperti saya, ini menjadi sebuah penghinaan (^^). Seringkali ide ide yang muncul di benak, menguap begitu saja.. sayang sekali, padahal saya sudah menyadari dari dulu bahwa dengan menulis, paling tidak saya jadi lebih mengenal diri saya sendiri, dan kemudian dapat membangun sebuah pemikiran pemikiran baru yang menjadi cikal bakal sebuah rencana yang rapih.

Baiklah saya akan mulai menulis di blog ini lagi. Untuk saya, saya ucapkan “selamat datang kembali..”

February 23, 2008

Happy enough?

Filed under: enrichment — Tags: — rinitriani @ 8:26 am

Do you find yourself dreaming of a happier life that you think lies beyond your grasp? Stop examining what you lack and look within yourself for the answers to the all-important question: What makes you really happy? All the money and beauty in the world may not bring that sense of contentment you seek. What pleases one person may not tickle the fancy of someone else. But that’s the important thing — you must follow your dreams, not someone else’s.

Money and good looks are great things to have, but they cannot make you happy if your emotional baggage outweighs your outer carriage. If you are insecure with no money, chances are you will still be plagued by inferiority after you pocket a cool $30 million.

Laquidara has a suggestion: “No one’s life is perfect — it’s how you deal with what comes your way that’s important. When something negative comes your way, approach it with problem-solving techniques, as opposed to wallowing,” Laquidara says.

As for envy, there’s a cure. “If you have a sense of self and you are giving and loving, then you won’t feel envy,” says J. Robert Gordon, Executive Director of the American Health Foundation. Most mental health workers agree that envy is due to not being comfortable with your own life. If that’s the case, then becoming happy is the best way to conquer envy.

“There are four ways to change your attitude and improve your life,” says Dr. Evelyn Hochberg, of Southcoast Psychotherapy in Boca Raton. “Be grateful for what you have, watch your thoughts (stop negative ones and substitute them for positive ones) and do something physical, like dancing or doing sport. Also, if you make a list of what you do have in your life, like friends, family, finances, interests and health, you might find that you’re better off than you think,” Hochberg says.

There are other ways to find happiness. “When you have a sense of fulfillment about your life, you will become happy. It’s knowing that no matter how torrential the rain, there’s always a rainbow beyond the clouds,” Gordon says.

What makes one person happy may not tickle the fancy of someone else. But that’s the important thing — you must follow your dreams, not someone else’s.

If you think your life pales in comparison to others’ — take heed. “Most people think that happiness depends on your circumstances, but the truth is, happiness has to do with your attitude and your state of mind. People who have everything are often miserable, and others with great challenges can maintain a sense of contentment,” Hochberg says.

If you’re still not convinced, chew on this. “If you think that celebrities have perfect lives, look how many of them end up in drug rehab and getting divorced,” Laquidara says.

HAPPYNESS: An Inside Job

from a literature of a health magazine

January 26, 2008

Wie kann man Muslim(in) werden?

Filed under: Neues — rinitriani @ 12:24 pm

(iz). Dass trotz des seit vielen Jahren beständig verbreiteten Negativ-Images des Islam hierzulande nach wie vor Menschen den Islam annehmen und Muslime werden, ist immer wieder Grund zur Freude. Oft ist es gerade die persönliche Begegnung mit Muslimen, die ein ganz anderes Bild zeigt, als das, was man vielleicht zuvor hatte. Viele wissen nicht, dass der Islam keine orientalische, sondern eine universale Religion und Lebensweise ist, die von jedem Menschen angenommen und gelebt werden kann und auch gelebt wird, wenn man sich die Vielfalt der weltweiten islamischen Gemeinschaft anschaut. Es liegt natürlich auch an den Muslimen selbst, dies immer wieder deutlich zu machen und nicht den Anschein zu erwecken, als sei Muslimsein und eine bestimmte Volkszugehörigkeit ein und dasselbe. Muslime sollten sich ihrer Vorbildrolle für Nichtmuslime bewusst sein. Auch die Einladung anderer Menschen zum Islam darf nicht in den Hintergrund geraten.

Die Bezeugung

Die Bezeugung, Schahada, die man auch mit dem Begriff Glaubensbekenntnis umschreiben könnte – obwohl es eigentlich noch mehr ist als das – ist die grundlegende Erklärung, die der Mensch ausspricht, um seine Zugehörigkeit zum Islam zu erklären. Die Schahada lautet auf Arabisch: „Aschhadu an la ilaha illa’Lah wa aschhadu anna Muhammadan rasulu’Llah“ – „Ich bezeuge, dass es keinen Gott gibt außer Allah, und dass Muhammad der Gesandte Allahs ist“. Damit bringt man zum Ausdruck, dass man dies sowohl im Herzen glaubt als auch mit der Zunge bezeugt. Die Schahada enthält zwei Teile, die nicht voneinander zu trennen sind, nämlich die Bezeugung der Einheit Allahs und dass es ausschließlich Allah ist, der anbetungswürdig ist. Der zweite Teil ist die Anerkennung, dass Muhammad, Allahs Segen und Friede sei auf ihm, Sein Gesandter ist. Dies impliziert auch, dem Vorbild des Gesandten zu folgen, wie Allah dies im Qur’an auch befiehlt. Im Qur’an wird der Prophet auch als Barmherzigkeit für alle Welten bezeichnet und als schönes Vorbild. Die prophetische Lebensweise ist durch tausende, bereits in früher Zeit rigoros authentifizierte Überlieferungen so genau und detailliert belegt wie bei keinem anderen Gesandten oder Propheten. Die islamische Lebensweise, wie sie sich aus den Fünf Säulen und der Sunna, der Praxis des Propheten Muhammad, ergibt, entspricht der natürlichen Veranlagung des Menschen, birgt Gutes für ihn im Diesseits und Jenseits und hält ihn ausgeglichen auf dem mittleren Weg, schützt und bewahrt vor vielen Übeln. Daher ist die Anerkennung des Prophetentums und die Nachahmung des Gesandten Allahs so wichtig.

Nach muslimischer Auffassung ist der Islam der Din der Fitra, der Glaube und die Lebensweise, die der menschlichen Natur entspricht. Demnach wird jedes Kind als Muslim geboren, nur seine Eltern und sein Umfeld erziehen es zu etwas anderem. Die Übersetzung des Wortes „Kafir“ für Nichtmuslime mit „Ungläubiger“ ist daher nicht korrekt, vielmehr leitet sich das Wort von „kafara“ ab, was „die Wahrheit bedecken oder verdunkeln“ bedeutet. Auch die Ausdrücke „konvertieren“ oder „zum Islam übertreten“ werden von bewussten Muslimen vermieden, denn jemand, der den Islam annimmt, kehrt im Grunde nur zum Din der Fitra, zum Islam, zurück, der schon immer in ihm oder ihr angelegt und vorhanden und lediglich überdeckt oder verdrängt war.

Dieses Gefühl, nicht etwas ganz neues angenommen zu haben, sondern vielmehr zu ihrem ursprünglichen Glauben, dem ursprünglichen reinen Zustand zurückgekehrt zu sein, haben viele neue Muslime erlebt. Dazu gibt es eine berühmte wie bedeutsame Stelle in der Offenbarung, in der Allah dies verdeutlicht: „Und als dein Herr aus den Lenden der Kinder Adams ihre Nachkommenschaft hervorbrachte und für Sich Selber als Zeugen nahm [und sprach]: ‘Bin Ich nicht euer Herr?, sprachen sie: ‘Jawohl, wir bezeugen es.’ Dies, damit sie nicht am Tage der Auferstehung sagen würden: ‘Wir hatten davon wirklich keine Ahnung!’“ (Al-A’raf, 172)

Muslim(in) werden

Um Muslim zu werden, muss man die Schahada vor zwei Zeugen aussprechen; in der Praxis wird sie zu diesem Anlass oft drei Mal hintereinander ausgesprochen. Dabei zu sein, wenn jemand die Schahada spricht und Muslim wird, ist selbst wenn man dies schon häufiger miterlebt hat, immer wieder ein besonderes, erhebendes Gefühl. Manchmal wird die Schahada im kleinen Kreis, vielleicht in der Wohnung befreundeter Muslime, gesprochen, manchmal in einer Moschee vor einer großen Zahl anwesender Muslime. Als neuer Muslim ist man in einer solchen Situation und angesichts einer Entscheidung von einer solchen Tragweite in der Regel überwältigt. So mancher hat dabei weiche Knie, manchmal fließen auch Tränen. Die anwesenden Muslime gratulieren dem neuen Mitglied der Gemeinschaft, umarmen es und heißen es herzlich willkommen.

Die Schahada beinhaltet die Akzeptanz der fünf Säulen des Islam, über die man zuvor aufgeklärt wird, das heißt das fünf Mal tägliche Gebet, das Zahlen der Zakat, der jährlichen Armensteuer, das Fasten im Monat Ramadan und die Hadsch, die Pilgerreise nach Mekka einmal im Leben, sofern es einem möglich ist. Der Islam ist einfach zu praktizieren. Auch wenn er ein Meer des Wissens ist, sind die wichtigsten Regeln doch schnell verstanden. Sobald man die Schahada gesprochen hat, ist man vor Allah verpflichtet, die fünf Säulen einzuhalten, und das heißt zunächst ab sofort die täglichen Gebete zu beten. Man sollte sich bemühen, dies so schnell wie möglich zu erlernen und dies nicht auf die leichte Schulter nehmen. Man lernt am besten zunächst mit anderen Muslimen die Waschung und einige kurze Suren zur Rezitation im Gebet, was gar nicht schwer ist, und kann dann als Muslim praktizieren und natürlich in der zu wählenden Gemeinschaft weiterlernen. Es ist für neue Muslime sehr wichtig, die Gemeinschaft anderer Muslime zu suchen. In ihr lernt man viel und ungleich schneller und einfacher als auf anderen Wegen. Mehr noch, viele praktische Aspekte des Verhaltens, der Umgangsformen, der Charaktereigenschaften kann man letztlich nur von anderen Muslimen und in Gemeinschaft erlernen und nicht aus Büchern oder dem Internet. Die Gemeinschaft gibt auch Geborgenheit, Rückhalt und Schutz. Der Islam ist auch ein soziales Phänomen und nur in der Gemeinschaft mit anderen Muslimen wirklich erfahrbar.

Bei den meisten neuen Muslimen ist es eine Mischung aus intellektueller und herzensmäßiger Überzeugung, die letztlich den Ausschlag gibt. Oft ist es dabei gut und erleichternd, wenn Muslime einen an die Hand nehmen und einem den letzten Ruck geben, um diese Entscheidung, die durchaus eine schwerwiegende ist und die man auch nicht überstürzen sollte, zu treffen. Dies berichtet auch der 19-jährige Yahya Schröder aus Potsdam, der im letzten Jahr Muslim geworden ist. Sein Vater war bereits einige Jahre zuvor Muslim geworden war. Anfangs konnte Yahya mit den Muslimen, die er in der Gemeinschaft traf, der sein Vater angehört, wenig anfangen. Mit der Zeit hat er jedoch begonnen, sich mehr für den Islam zu interessieren, dadurch aber auch Probleme mit seiner Mutter und dem Stiefvater bekommen, bei denen er lebte. „Das ging dann so weit, dass ich ausziehen musste, damit ich Muslim werden kann.“ Am Islam habe ihn das Gemeinschaftliche angezogen. Es gab einen Punkt, der für seine spätere Entscheidung wichtig war: „ An einem Sonntag waren wir mit Kindern aus der Gemeinschaft schwimmen gegangen. Ich habe einen Kopfsprung ins Becken gemacht, und dabei habe ich mir den fünften Halswirbel zwei Mal angebrochen. Zu diesem Zeitpunkt habe ich schon mehr über den Islam gewusst und war ziemlich nah. Ich habe gemerkt, dass wenn Allah will, mein Leben in einer Sekunde vorbei sein kann. Ich habe dann noch mehr über Islam nachgedacht und mein Leben ernster genommen. Ich habe gemerkt, dass ich, wenn ich in der muslimischen Gemeinschaft war, glücklich war. Deshalb bin ich dann auch zu meinem Vater gezogen.“ Seine Schahada hat er dann am dritten Tag des Ramadan 2006 gesprochen. „Die Potsdamer muslimische Gemeinschaft hatte sich aus diesem Anlass versammelt. Ich war extrem nervös. Es gibt ein Foto von meiner Schahada, wo die Hand des Imams ganz rot ist, weil ich so fest zugedrückt habe. Aber dann war es so, als wenn etwas abgefallen ist. Denn ich hatte noch in dem Moment, als ich die Schahada gesprochen habe, Zweifel. Aber die Zweifel gingen dann kurz danach. Wenn man das Gefühl hat, dass Islam etwas für einen selbst ist, dann muss man auch die Schahada sagen, denn sonst wird es zum Spiel. Wenn man anfängt zu beten, aber nicht die Schahada gesagt hat, ist es nicht reell“, gibt Yahya zu bedenken.

Aliya (22) aus Köln hat im September diesen Jahres die Schahada gesagt. Sie ist als Tochter eines türkischen Vaters und einer deutschen Mutter aufgewachsen, aber nicht als Muslimin. Der Islam spielte in der Familie kaum eine Rolle. „Ich wollte nie wirklich etwas vom Islam wissen, ich glaube das war etwas, gegen das ich mich am meisten gewehrt habe. Ich war allerdings schon immer auf der Suche und habe mich mit Religionen beschäftigt, habe aber immer das Gefühl gehabt, dass das alles nicht das Richtige für mich persönlich ist. Ich habe dann Leute kennen gelernt, durch die ich mitbekommen habe, dass es einen ganz wunderschönen Islam gibt. Ich habe meine Skepsis dann auch relativ schnell verloren. Diese Tiefe, die ich da gespürt habe, hat mich bewegt, diesen Schritt zu gehen, und sehen zu wollen, wie es ist, den Islam zu leben, zu praktizieren; durch die Gemeinschaft, die ich kennen gelernt habe. Ich habe viele Fragen beantwortet bekommen. Der Schritt, es getan zu haben, war eine Erleichterung. In diesem Moment habe ich mich erleichtert gefühlt und gedacht, ich ergebe mich, auch gegenüber den Kämpfen, die ich innerlich geführt habe. Ich konnte dann geduldiger mit mir selbst umgehen.“ Der Ramadan, den sie in diesem Jahr erstmals mitgemacht hat, sei für sie eine sehr positive Erfahrung gewesen. „Meine Eltern und meine engeren Freunde haben es sehr positiv aufgenommen. Sie haben zwar auch Skepsis geäußert, sobald ich aber versucht habe, meine Einstellung zu erklären und zu sagen, dass Islam etwas ist, was ich einfach brauche, haben sie es auch akzeptiert.“ 

07.11.2007 Die IZ-Reihe über den Alltag der Muslime in Deutschland. Von Yasin Alder

January 16, 2008

Zusammenleben ohne Trauschein

Filed under: Textproduktion — Tags: — rinitriani @ 10:59 pm

Zusammenleben ohne Trauschein ist ein Lebensstil, bei dem viele Liebespaare versuchen, intenziver einander kennen zu lernen. Sie wollen eine ernste feste Beziehung haben. Eine solche Beziehung halten einige Paare für eine sehr wichtigen Schritt bevor sie heiraten. Oder sie finden es einfach so gut ohne Heirat weiter zu machen. Es ist abhängig von den Wünschen der Paare, ob sie eine Legaliesirung wünschen. Manchmal ist der Wunsch nach Ubhängigkeit der Anlass und wahrscheinlich auch die Angst vor Heirat.

In meinem Heimatland sollte ein Paar das zusammenleben will, durch Trauschein seine intime Beziehung legalisieren. Ich bin mir nicht sicher in Bezug auf die neun Lebensbedingungen, aber bei uns galt damals dieses Verhältnis als bedauerlich. Die Kultur und Religion stimmten immer nicht zu. Die Tendenz der Kultur ging wider dieses schändliche Benehmen. Man musste unbedingt heiraten wenn man min seiner/em Partner/in zusammen leben wollte. Das Gesetz regelte es streng. Aber in der Tat, wegen Mengelnder Regierungkontrolle machten auch manche es einfach.

Meiner meinung nach ist es Lebensnotwendig für ein Paar ihr Liebe zu legalisieren. So kann ihre Liebe weiter wachsen und damit das Paar hat die Bereitschaft eins oder mehrere Kinder zu erziehen. Der Trauschein zeigt sicheres Engagement von Beiden, und Verantwortung für jede Entscheidung die Beide treffen müssen. Und die Beiden sollten auf jeden fall bereit sein, ihre Unäbhangigkeit aufzugeben.

December 16, 2007

Wie wichtig sind Fremdsprachenskenntnisse?

Filed under: Textproduktion — Tags: , , — rinitriani @ 8:43 am

Übung P3, seite 34, Lehrbuch

Ich halte Auslanderfahrungen für wertvoll. Diese Erfahrungen bereichern hauptsachlich unsere Kenntnisse in der Fremdsprache. Das Sprechen der Fremdsprache fordert mich heraus, wer ich bin und was ich in der Tat tun kann. Dadurch kann ich meine Persönlichkeit weiter entfalten.

Von den beiden dargestellten Personen finde ich Stefan Westhof nachahmenswert. Er zeigt gutes Beispiel einer hochmotivierten Person. Er lernte einige Fremdsprachen, um seine beruflichen Chancen zu verbessern. Und er schaffte es gut.

Das Erlernen der Fremdsprache ist für mich der Schlüssel zur Integration in einer neuen Umgebung. Es nimmt die Flexibilität des Denkens einer Persons zu, vermehrt die Sprachensensibilität, und verbessert das Gehör. Es öffnet die Türen zu anderen Kulturkreisen und hilft mir, Leute aus verschiedenen Ländern zu verstehen und zu würdigen.

Man sollte nach meiner Meinung einige wichtige International Sprache lernen. Internationale Sprachen wie zum Beispiel Englisch, Französisch, und Deutsch finde ich ganz wichtig, weil man damit International kommunizieren kann, und auch sehr viele neue andere Kenntnisse aus aller Welt erhalten kann.

“Wer Deutsch kann, der hat gute Perspektiven für die Karriere”, sagt man oft. Warum das so ist? Weil Deutsch eine wichtige Handelsprache ist und die Chancen auf dem Arbeitsmarkt erhöht. Das Erlernen und Beherrschen der deutschen Sprache ist eine Investition auf bleibende und solide Werte setzt.

In einem Lebenslauf werden Fremdsprachenskenntnisse meiner meinung nach bei der Berwerbung für eine Stelle positiv bewertet. Das Kompetenz in jeder Sprache ist ein Kapital, das Zukunft hat. Jedes Unternehmen mit Zukunft wird in die mehrsprachigkeit seiner Mitarbeiter investieren. Wer Fremdsprachen spricht, kann weltweit mit mehr Menschen kommuniezieren. Und Unternehmen legen wirklich großen Wert auf solche Investitionen.

December 9, 2007

e, Übung, -en

Filed under: Uncategorized — rinitriani @ 6:25 pm

Setzen Sie die folgenden Wörter in die Lücken im Text:

den der der der die ein ein einer

Ich hab im Anzug viele Taschen,
und in die Taschen ist nichts drin
als nur ein kleines Bild  der Frau,
mit der ich glücklich bin.
Und außerdem noch den paar Noten,
doch keine Noten von einer Bank,
nur Noten der Melodie,
der sing‘ ich stundenlang:

Setzen Sie die folgenden Wörter (bzw. Wortteile) in die Lücken im Text:

e m r t

Ich brauche keine Millionen,
mir fehlt kein Pfennig zum Glück.
Ich brauche weiter nichts
als nur Musik, Musik, Musik.

Setzen Sie die folgenden Wörter in die Lücken im Text:

chic kein Musik nichts Schloss

Ich brauch‘ kein Schloss , um zu wohnen,
kein Auto, funkelnd und chic .
Ich brauche weiter nichts als nur Musik, Musik , Musik.

Setzen Sie die folgenden Wörter (bzw. Wortteile) in die Lücken im Text:

du ganze große kein keine Musik noch weiter

Doch eine große Kleinigkeit,
die brauch‘ ich noch dazu.
Und diese ganze Kleinigkeit
bist du , nur du, du du du!

Ich brauche keine Millionen,
mir fehlt kein Pfennig zum Glück.
Ich brauche weiter nichts
als nur Musik , Musik, Musik.

Meine Heimatstadt – Bandung

Filed under: Uncategorized — Tags: , — rinitriani @ 4:07 pm

Meine Heimatstadt heißt Bandung. Sie ist die Hauptstadt von Westjava. Die Friezeitmöglichkeiten sind unterschiedlich. Ich mag was ich immer in der Freizeit dort machte. Ich und meine Freunde machten oft Ausflüge. Wir genoßen unser Leben. Meine Geschwister wohnten alle zusammen in Bandung. Nun leben wir schon getrennt. Wir hatten in verschiedenen Einkaufzentren eingekauft. Manchmal sagt man ” Bandung ist Paris van Java”, weil es sehr viele und ganz interessante große Einkaufszentren gibt. Bandung verfügt auch über ein sehr reiches Kulturangebot. Man kann im Kino, in Grünanlage, auf dem Spielplatz, in der Oper, usw seine Zeit verbringen. Ich und meine Familie leben gern dort. Den Öffentlichen Nahverkehr finde ich ein bisschen kompliziert. Menschen, die aus der Stadt kommen, können nicht schnell verstehen, wie sie an ihren Zielort. Man muss unbedingt die Einheimischen fragen, sonst gibt es keine Hinweise. Die Sicherheit vor Kriminalität ist nicht so hoch, man muss nur die Zeit beachten. Wenn der Abend kommt, sollte man vorsichtiger sein. Man muss auf sich aufpassen. Weil man sich auf die Polizei nicht unbedingt verlassen kann.

Hello world!

Filed under: Uncategorized — rinitriani @ 9:37 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog at WordPress.com.